Minggu, 01 Desember 2013

PENDERITA HIV/AIDS LAMPURA NAIK JADI 52 ORANG


Kotabumi (SL) – Jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) Lampung Utara terus meningkat setiap tahunnya. Jika pada tahun lalu jumlahnya baru mencapai 36 orang, kini penderita HIV/AIDS Lampura telah mencapai 52 orang atau mengalami kenaikan sekitar 29 persen penderita. Bahkan, ketiga puluh diantaranya dinyatakan positif sebagai penderita AIDS.
“Jika tahun lalu, penderita HIV/AIDS disini (Lampura) berjumlah 37 orng maka tahun ini jumlah penderita HIV/AIDS Lampura mencapai 52 orang,” kata Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Lampura, Eza Mayang Saputra, disela – sela peringatan Hari Aids sedunia, diseputaran Tugu Payan Mas Kotabumi, Minggu (1/12).

Eza mengatakan, penderita penyakit yang belum ada penangkalnya hingga kini itu berasal dari semua kalangan seperti pecandu narkoba jenis heroin atau putaw, Pekerja Seks, serta Ibu Rumah Tangga (IRT). Yang lebih mencengangkan lagi, untuk tahun ini, penderita HIV/AIDS dari kalangan IRT terus mengalami kenaikan sekitar 35 persen. “Dari total penderita HIV/AIDS, penderita dari kalangan IRT mencapai 35 persen,” ujar dia.

Meningkatnya penderita HIV/AIDS dari kalangan IRT ini, terus Eza, kemungkinan disebabkan oleh ketidakpengetahuan sang IRT bahwa sang suami terjangkit penyakit berbahaya tersebut. “IRT itu tidak tahu kalau suaminya terkena hiv, akhirnya mereka juga terinfkesi,” terangnya.

Mirisnya lagi, meski menempati urutan kedua sebagai penderita HIV/AIDS dipropinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten setempat terkesan tutup mata dalam persoalan ini. Ini dibuktikan dengan minimnya dana penanggulangan penyakit berbahaya itu di Lampura. Pemkab setempat hanya mengalokasikan dana sebesar Rp. 50 juta setiap tahun guna menanggulangi penyakit HIV/AIDS diwilayahnya.

Kendati demikian, minimnya anggaran dana tersebut tidak membuat KPA Lampura patah arang untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Komisi ini terus melakukan berbagai Penyuluhan terhadap bahaya narkoba atau seks sebagai sumber utama penyebaran penyakit itu. “Kita selalu lakukan sosialiasi kepada para Penasun (Pengguna jarum suntik) dan Pekerja Seks Komersil dan juga kepada anak sekolah,” ucap dia.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan setempat, Maya Natali Manan menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan penyuluhan program Aku Bangga Aku Tahu dari Kementerian Kesehatan. Program ini merupakan sosialisasi beserta pemahaman mengenai HIV/AIDS di kalangan anak muda khususnya usia 15 tahun sampai 24 tahun.. “Selain melakukan penyuluhan diberbagai sekolah, kita juga mengunjungi sejumlah pengajian, perusahaan,” katanya.(Feaby)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...