Rabu, 13 November 2013

MIRZA: KAMI PEWARTA. BUKAN PEMBAWA PETAKA



Kotabumi (SL) - Puluhan wartawan yang tergabung dalam Komunitas Wartawan Lampung Utara (Kowala) menggelar aksi damai di sekitar Tugu Payan Mas, Rabu (13/11) sekitar pukul 09:00 WIB.


Aksi damai ini sendiri merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap aksi kekerasan dan pelecehan yang mulai marak terjadi akhir - akhir ini terhadap kalangan wartawan seperti yang dialami oleh wartawan harian Pilar Kabupaten Tanggamus, Imron Toni saat menjalankan tugasnya di Dinas Pekerjaan Umum Tanggamus. Dimana, pada saat itu, wartawan Imron Toni mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oknum rekanan Dinas PU Tanggamus.
 
Selain Imron Toni, tindakan yang kurang menyenangkan juga diterima oleh sejumlah jurnalis di Kabupaten Way Kanan seperti yang dialami oleh wartawan Radar Lampung yang Sekretaris PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Way Kanan beserta keempat rekannya. Kelima jurnalis itu mendapat perlakuan yang terkesan melecehkan profesi wartawan saat akan melakukan peliputan di kantor Pengadilan Agama Way Kanan. 

Ketua Umum Kowala, Mirza usai aksi damai itu menyatakan, pihaknya mengaku sangat prihatin atas maraknya aksi kekerasan atau pelecehan terhadap profesi wartawan. Karena menurutnya, segala bentuk kekerasan atau pelecehan yang dilakukan kepada wartawan merupakan preseden buruk dalam era reformasi. "Kami sangat mengutuk keras aksi kekerasan atau pelecehan terhadap profesi wartawan," tandas dia, Rabu (13/11).

Tindakan yang diterima oleh para jurnalis seperti di Way Kanan dan Tanggamus khususnya, imbuhnya lagi, sangat tidak dapat dibenarkan. Sebab, setiap nara sumber dapat menggunakan hak jawabnya bila merasa keberatan dengan sebuah pemberitaan di media massa. “Mereka kan bias gunakan cara – cara yang terhormat bila memang keberatan dengan pemberitaan. Ingat, kami ini pewarta. Bukan pembawa petaka,” tegas Mirza. 

Oleh karenanya, Mirza  menuntut aparat penegak hukum dapat segera mengusut tuntas dan menangkap pelaku tindak kekerasan atau pelecehan terhadap profesi jurnalis yang acap kali terjadi belakangan ini. Ia juga meminta kepada Kepala Pengadilan Agama Way Kanan untuk meminta maaf secara terbuka kepada publik atas tindak pelecehan yang dilakukan salah satu stafnya. “Tangkap pelaku tindak kekerasan atas wartawan," tegasnya berapi-api.

Aksi damai ini sendiri ditutup dengan aksi teaterikal yang menggambarkan penganiayaan atau tindak kekerasan yang kerap diterima oleh kalangan jurnalis saat menjalankan tugasnya dilapangan.(Feaby)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...